Terkait dengan pelaksanaan ibadah, hal sangat mendasar yang paling utama
harus diperhatikan dan patut diketahui dan dilaksanakan ialah
kebersihan dan kesucian seseorang dalam melaksanakan ibadah, terutama
dalam melaksanakan ibadah salat. Anjuran tentang pentingnya pemeliharaan
kebersihan dan kesucian banyak terdapat dalam ayat al-Qur’an dan hadis
Nabi saw. yang di arahkan bagi kebahagiaan hidup.
Disebutkan dalam hadits ke-25 Riyadhush Shalihin
وعن
أبي مالك الحارث بن عاصم الأشعري رضي الله عنه قال: قا ل رسول الله صلى
الله عليه وسلم “الطهورشطر الإيمان, والحمد لله تملأ الميزان, وسبحان الله
والحمد لله تملأن أو تملأ ما بين السموات والأرض, والصلاة نور, والصدقة
برهان, والصبرضياء, والقران حجة لك أو عليك. كل الناس يغدو فبائع نفسه,
فمعتقها أوموبقها” – رواه مسلم
Dari Abu Malik Al-Harits bin Ashim Al-Asy’ari (semoga Allah meridhainya)
berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda “Kesucian
adalah setengah daripada iman, dan (ucapan) ‘Alhamdulillah’ (Segala puji
bagi Allah) memenuhi timbangan, dan (ucapan) ‘Subhanallahu wa
Alhamdulillah’ (Maha Suci Allah dan Segala Puji bagi Allah) memenuhi apa
yang ada diantara langit dan bumi, dan Shalat adalah cahaya, dan
Sedekah adalah bukti, dan Kesabaran adalah Pelita, dan Al Qur’an akan
menjadi hujjah (argumen) yang membelamu atau yang menuntutmu. Setiap
manusia keluar di pagi hari untuk menjual dirinya, ada yang membebaskan
dirinya dan ada yang membinasakan dirinya” – Riwayat Muslim
Kesucian adalah sebagian dari Iman. Kata ‘Ath-Thuhur‘ berarti kesucian
manusia, dan ‘Syathru al-iman‘ berarti setengah (sebagian) dari iman.
Karena keimanan adalah membersihkan dan menghiasai, yaitu membersihkan
dari kesyirikan. Hendaknya manusia bersuci secara jasmani, yaitu dari
segala bentuk najis, dan secara ruhani, yaitu dari segala bentuk
keburukan. Maka dari itu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam
menjadikan kesucian setengah dari iman.
Redaksi ‘Kesucian adalah sebagian dari Iman’ adalah redaksi yang shahih
dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan ungkapan
‘Kebersihan adalah bagian dari Iman’ bukanlah hadits yang sah
Thaharah merupakan ciri terpenting dalam Islam yang berarti bersih dan
sucinya seseorang secara lahir dan bathin. Dalam kamus bahasa arab,
thaharah berasal dari kata طهره , secara bahasa (etimologi) berarti
membersikan dan mensucikan.[Kamus Bahasa Arab (Jakarta: PT. Muhammad
Yunus Wa Dzurriyyah, 2007), h. 241.] Sedangkan menurut istilah
(terminologi) bermakna menghilangkan hadas dan najis.Thaharah berarti
bersih dan terbebas dari kotoran atau noda, baik yang bersifat hissi
(terlihat), seperti najis (air seni atau lainnya), atau yang bersifat
maknawi, seperti aib atau maksiat. Sedangkan secara istilah adalah
menghilangkan hadats dan najis yang menghalangi pelaksanaan shalat
dengan menggunakan air atau yang lainnya.
Dengan demikian, thaharah adalah bersih dan suci dari segala hadats dan
najis, atau dengan kata lain membersihkan dan mensucikan diri dari
segala hadats dan najis yang dapat menghalangi pelaksanakan ibadah
seperti shalat atau ibadah lainnya.
Sifat Wudlu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Allah ta'ala berfirman :
يأيُّهَا
الَّذِيْنَ آمَنُوا إذَا قُمْتْمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسلُوْا
وُجُوْهَكُمْ وَأَيْديَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا
بِرُؤُوْسِكُمْ وَ أَرْجُلَكُمْ إِلَى الِكَعْبَيْنِ
Wahai orang-orang yang beriman jika kalian berdiri untuk (mendirikan)
sholat maka cucilah wajah-wajah kalian dan tangan-tangan kalian hingga
ke siku-siku dan basuhlah kepala-kepala kalian dan (cucilah) kaki-kaki
kalian hingga kedua mata kaki. (Al-Maidah : 6)
Hadits Rosulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
عَنْ
عَمْرٍو بْنِ يَحْيَى المَازِنِيِّ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ : شَهِدْتُ
عَمْرَو بْنَ أَبِيْ الْحَسَنِ سَأَلَ عَبْدَ اللهِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ
وُضُوْءِ النَّبِيِّ ، فَدَعَا بِتَوْرٍ مِنْ مَاءٍ فَتَوَضَّأَ لَهُمْ
وُضُوْءَ النَّبِيِّ . فَأَكْفَأَ عَلَى يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرِ فَغَسَلَ
يَدَيْهِ ثَلاَثًا، ثُمَّ أَدَْخَلَ يَدَهُ فِى التَّوْرِ فَمَضْمَضَ و
اسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلاَثًا بثَلاَثِ غُرْفَاتٍ، ثُمَّ أَدَْخَلَ
يَدَهُ فِى التَّوْرِ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا، ثُمَّ أَدَْخَلَ
يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ إِلَى المِرْفَقَيْنِ، ثُمَّ أَدَْخَلَ
يَدَيْهِ فَمَسَحَ بِهِمَا رَأْسَهُ فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ
مَرَّةً وَاحِدَةً، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ.
وَ
فِيْ رِوَايَةٍ : بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ حَتَّى ذهَبَ بِهِمَا إِلَي
قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا حَتَّى رَجَعَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ
مِنْهُ.
Dari Amr bin Yahya Al-Maziniyyi dari bapaknya berkata : "Aku telah
menyaksikan 'Amr bin Abil Hasan bertanya kepada Abdullah bin Zaid
tentang wudlunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Abdullah bin
Zaid meminta tempayan kecil yang berisikaan air lalu dia berwdlu
sebagaimana wudlunya Nabi. Maka beliau pun memiringkan tempayan tersebut
dan mengalirkan air kepada kedua tangannya lalu mencuci kedua tangannya
itu tiga kali. Kemudian beliau memasukkan (satu) tangannya kedalam
tempayan lalu berkumur-kumur dan beristinsyaq (memasukkan air kedalam
lubang hidung dengan menghirupnya-pent) dan beristintsar (menghembuskan
air yang ada dalam lubang hidung-pent) tiga kali dengan tiga kali
cidukan tangan. Kemudian beliau memasukkan (satu) tangannya dalam
tempayan lalu mencuci wajahnya tiga kali, kemudian memasukkan kedua
tangannya lalu mencuci kedua tangannya tersebut dua kali hingga kedua
sikunya. Kemudian beliau memasukkan kedua tangannya dan mengusap
kepalanya dengan kedua tangannya itu (yaitu) membawa kedua tangannya itu
ke depan dan kebelakang satu kali. Kemudian mencuci kedua kakinya.
Dalam riwayat yang lain : Beliau memulai dengan (mengusap) bagian depan
kepalanya hingga kebagian tengkuk lalu mengembalikan kedua tangannya
tersebut hingga kembali ke tempat dimana beliau mulai (mengusap).
Dari ayat dan hadits di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa sifat wudlu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah :
1. Berniat.
Sebagaimana telah dibahas bahwa niat adalah tempatnya di hati dan
melafalkan niat adalah bid'ah. Dan niat adalah syarat wudlu (dan ini
adalah pendapat jumhur ulama), sehingga barang siapa yang berwudlu
dengan niat bukan untuk bertaqorrub kepada Allah ta'ala tetapi untuk
mendinginkan badan atau untuk kebersihan maka wudlunya tidak sah, karena
Rosululah sholallohu'alaihi wasallam bersabda "Sesungguhnya
amalan-amalan itu tergantung niatnya". Namun Menurut madzhab Hanafiyah,
hukum niat ketika akan berthoharoh (termasuk juga ketika akan wudlu)
adalah hanya sunnah, sehingga seseorang berwudlu tanpa niat bertaqorrub
pun sudah sah wudlunya. Dan yang benar adalah pendapat jumhur ulama.
(Al-fiqh al-islami 1/225)
2. Membaca "Bismilah"
Sesuai dengan sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari hadits Abu Huroiroh:
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ وَ لاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ
"Tidak ada sholat bagi orang yang tidak berwudlu dan tidak ada wudlu
bagi orang yang tidak menyebutkan nama Allah atasnya". (Hadits Hasan,
berkata Syaikh Al-Albani : "…Hadits ini memiliki syawahid yang banyak…",
lihat irwaul golil no 81)
Hadits ini secara dhohir menunjukan bahwa membaca "bismillah" adalah
syarat sah wudlu. Namun yang benar bahwa yang dinafikan dalam hadits di
atas adalah kesempurnaan wudlu.
Terjadi khilaf diantara para ulama. Imam Ahmad dan pengikutnya
berpendapat akan wajibnya mengucapkan "bismilah" ketika akan berwudlu
Mereka berdalil dengan hadits ini
Sedangkan jumhur ulama (Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Abu Hanifah,
serta satu riwayat dari Imam Ahmad) bahwa membaca "bismillah" ketika
akan berwudlu hukumnya hanyalah mustahab, tidak wajib. (Taudihul Ahkam
1/193). Dalil mereka :
- Perkataan Imam Ahmad sendiri : "Tidak ada satu haditspun yang tsabit dalam bab ini"
- Dan kebanyakan sahabat yang mensifatkan wudlu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan "bismillah" (syarhul mumti' 1/130)
Syaikh Al-Albani berkata : "…Tidak ada dalil yang mengharuskan keluar
dari dhohir hadits ini (yaitu wajibnya mengucapkan bismillah-pent) ke
pendapat bahwa perintah pada hadits ini hanyalah untuk mustahab. Telah
tsabit (akan) wajibnya, dan ini adalah pendapat Ad-Dzohiriyah, Ishaq,
satu dari dua riwayat Imam Ahmad, dan merupakan pendapat yang dipilih
oleh Sidiq Hasan Khon, Syaukani, dan inilah (pendapat) yang benar Insya
Allah" (Tamamul Minnah hal 89)
Dan ada juga hadits yang lain yaitu :
عَنْ
أَنَسٍ قَالَ : طَلَبَ بَعْضُ أَصْحَاب النَّبِيِّ وُضُوْءً فَقَالَ
رَسُوْلُ اللهِ : هَلْ مَعَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مَاءٌ ؟ فَوَضَعَ يَدَهُ فِيْ
الْمَاءِ وَ يَقُوْلُ : تَوَضَّؤُوْا بِاسْمِ اللهِ, فَرَأَيْتُ الْمَاءَ
يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ حَتَّى تَوَضَّؤُوْا مِنْ عِنْدِ
آخِرِهِمْ . قَالَ ثَابِتٌ : قُلْتُ لأَنَسٍ : كَمْ تَرأهُمْ ؟ قَالَ :
نَحْوٌ مِنْ سَبْعِيْنَ
Dari Anas berkata : Sebagian sahabat Nabi mencari air, maka Rosulullah
berkata : “Apakah ada air pada salah seorang dari kalian?”. Maka Nabi
meletakkan tangannya ke dalam air (tersebut) dan berkata :“Berwudlulah
(dengan membaca) bismillah”.. Maka aku melihat air keluar dari sela-sela
jari-jari tangan beliau hingga para sahabat seluruhnya berwudlu hingga
yang paling akhir daari mereka. Berkata Tsabit :”Aku bertanya kepada
Anas, Berapa jumlah mereka yang engkau lihat ?, Beliau berkata : Sekitar
tujuh puluh orang”. (Hadits riwayat Bukhori no 69 dan Muslim no 2279).
Hadits ini menunjukan akan wajibnya membaca bismillah karena Rosulullah menggunakan fiil amr (kata kerja perintah).
Kalau memang wajib, lantas bagaimana jika seseorang lupa mengucapkannya
ketika akan berwudlu dan dia baru ingat di tengah dia berwudlu atau
bagaimana jika dia baru ingat setelah berwudlu. Jawabnya :
Jika dia ingat di tengah berwudlu, maka dia tidak perlu mengulangi
wudlunya tapi terus melanjutkan wudlunya karena membaca "bismillah"
bukan merupakan syarat wudlu. Dan jika dia mengingatnya setelah selesai
berwudlu maka wudlunya sah, karena Allah tidak membebani apa yang tidak
disanggupi oleh umatnya.
3. Mencuci tangan tiga kali hingga ke pergelangan tangan
Berkata Syaikh Ali Bassam : "Disunnahkan mencuci dua tangan tiga kali
hingga ke pergelangan tangan sebelum memasukkan kedua tangan tersebut ke
dalam air tempat wudlu, dan ini merupakan sunnah menurut ijma'. Dan
dalil bahwa mencuci kedua tangan hanyalah sunnah bahwasanya tidaklah
datang penyebutan mencuci kedua tangan di dalam ayat-ayat (Al-Qur'an).
Dan sekedar perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidaklah
menunjukan akan wajib, hanyalah menunjukan kemustahabannya. Dan ini
adalah qoidah usuliah". (Taudihul Ahkam 1/161).
4. Berkumur-kumur (tamadlmudl) dan beristinsyaq
Khilaf diantara para Ulama :
Imam yang tiga (Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Syafi'i) dan
Sufyan At-Tsauri dan yang lainnya berpendapat tidak wajibnya
berkumur-kumur dan beristinsyaq tetapi hanya sunnah. Dalil mereka yaitu
hadits tentang عشر من سنن المرسلين (sepuluh dari sunnah para nabi),
diantaranya yaitu beristinsyaq. Dan sunnah bukanlah wajib
Namun pendalilan ini sangat lemah. Yang dimaksud dengan sunnah dalam
hadits tersebut adalah "toriqoh" bukan sunnah menurut istilah fiqh
(sesuatu yang jika dikerjakan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan
tidak berdosa), karena istilah ini adalah istilah yang baru.
Sedangkan Imam Ahmad berpendapat akan wajibnya berkumur-kumur dan
beristinsyaq, dan ini juga pendapat Ibnu Abi Laila dan Ishaq.
Dalil-dalil mereka :
- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa melakukan keduanya dan tidak pernah meninggalkan keduanya, kalau memang hanya sunnah, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan meninggalkan keduanya walau hanya sekali untuk menunjukkan akan bolehnya.
- Allah ta'ala berfirman (Dan cucilah wajah-wajah kalian), sedangkan mulut dan hidung termasuk wajah jadi termasuk dalam keumuman perintah Allah ta'ala.
- Adanya hadits-hadits yang menunjukan akan wajibnya. Diantaranya hadits Abu Huroiroh yang diriwayatkan oleh Imam Muslim
مَنْ تَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْشِقْ
"Barangsiapa yang berwudlu hendaklah dia beristinsyaq"
Dan juga hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Daruqutni dari
hadits Laqith bin Sopoh, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
إِذَا تَوَضَّأْتَ فَمَضْمِضْ
"Jika engkau berwudlu maka berkumur-kumurlah" (Taudihul ahkam 1/173)
Dan setelah beristinsyaq hendaknya beristintsar (menghembuskan air yang ada di hidung)
5. Mencuci wajah
Hukumnya adalah wajib. Dan definisi wajah secara syar'i tidak dijelaskan
oleh Syari'at oleh karena itu kita kembalikan kepada maknanya secara
bahasa. Wajah adalah apa yang dengannya timbul muwajahah/muqobalah
(saling berhadapan). Dan batasannya adalah dari tempat biasanya tumbuh
rambut kepala hingga ke ujung bawah dagu (secara vertikal), dan dari
telinga ke telinga (secara horizontal). (Taudihul Ahkam 1/170)
Bagi yang punya jenggot ?
Hadits Rosulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam :
عَنْ عُثْمَان t قّالَ : إِنَّ النَّبِيَّ كَانَ يُخَلِّلُ لِحْيَتَهُ فِيْ الْوُضُوْءِ
Dari
Utsman berkata : "Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
menyela-nyela jenggotnya ketika berwudlu. (Hadits shohih, riwayat
Tirmidzi)
Dan juga hadits Anas:
أَنَّ
النَّبِيَّ كَانَ إِذَا تَوَضَّأَ أَخَذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَأَدْخَلَهُ
تَحْتَ حَنَكِهِ فَخَلَّلَ بِهِ لِحْيَتَهُ وَقَالَ هَكَذَا أَمَرَنِيْ
رَبِّي عَزَّ وَ جَلَّ
Bahwasanya Nabi jika berwudlu beliau mengambil segenggam air (dengan
tangannya-pent) lalu beliau memasukkannya di bawah mulutnya kemudian
beliau menyela-nyela jenggot dengannya. Dan beliau berkata :"Demikianlah
Robku عَزَّ وَ جَلَّ memerintah aku". (Irwaul golil no 92)
Menyela-nyela jenggot ada dua hukum :
- Jika jenggot tersebut tipis sehingga kelihatan kulit wajah (dagu), maka hukumnya wajib menyela-nyela jenggot hingga mencuci kulit wajah yang nampak tersebut dan juga mencuci pangkal jenggot.
- Jika jenggot tersebut tebal sehingga tidak nampak kulit wajah (dagu), maka hukum menyela-nyela janggut bagian dalam (pangkal jenggot) dan mencuci kulit wajah adalah sunnah tidak wajib. Karena termasuk hukum bagian dalam yang tersembunyi. Adapun bagian luar jenggot maka wajib dicuci karena dia merupakan perpanjangan wajah (Tadihul Ahkam 1/177 dan Syarhul Mumti' 1/140 )
6. Mencuci kedua tangan
Dicuci dari ujung-ujung jari hingga ke siku Tangan kanan terlebih dahulu tiga kali, kemudian baru tangan kiri.
Apakah siku ikut dicuci atau tidak ?. Allah ta'ala berfirman :
وَأَيْديَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ
(Dan cucilah) tangan-tangan kalian hingga ke siku-siku
Sebab إِلَى menurut para ahli nahwu bisa berarti akhir dari puncak, baik untuk waktu maupun tempat. Misalnya untuk waktu ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى الليْلِ (Lalu sempurnakanlah puasa hingga malam) dan untuk tempat misalnya مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى (Dari masjidil Harom hingga ke masjidi Aqso).
Adapun yang datang setelah إِلَى maka boleh masuk kepada yang sebelum
إِلَى (sehingga ketika itu إِلَى bermakna مَعَ sebagaimana firman Allah
ta'ala وَلاَتَأْكُلُوْا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَلِكُمْ ) dan bisa juga
tidak masuk kepada apa yang sebelum إِلَى , dan ini semua diketahui
dengan qorinah (indikasi) (Taudihul Ahkam 1/160). Adapun dalam
permasalahan ini yang benar bahwasanya siku masuk dalam daerah cucian
dengan adanya qorinah dari hadits yang menunjukan akan hal itu.
Diantaranya :
عَنْ جَابِرٍ قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ إِذَا تَوَضَّأَ أَدَارَ الْمَاءَ عَلَى مِرْفَقَيْهِ
Dari Jabir berkata :"Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika
berwudlu, beliau memutar air ke kedua sikunya" (Diriwayatkan oleh
Darqutni dengan sanad yang dho'if) Tapi haditsnya dhoif (Taudihul Ahkam
1/191)
Namun ada hadits yang lain yaitu hadits Abu Huroiroh
أَنَّ
أَبَا هُرَيْرَةَ تَوَضَّأَ فَغَسَلَ يَدَهُ حَتَّى أَشْرَعَ فِيْ
العَضُدِ، وَرِجْلَهُ حَتَّى أَشْرَعَ فِيْ السَّاقِ، ثُمَّ قَالَ :
هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُلَ اللهِ يَتَوَضَّأُ
Abu
Huroiroh berwudlu maka dia mencuci tangannya hingga naik ke lengan atas
dan dia mencuci kakinya hingga naik ke betisnya, lalu dia berkata :
"Demikianlah aku melihat Rosulullah berwudlu" (Hadits shohih riwayat
Muslim, Irwaul Golil no 94)
Apakah disunnahkan mencuci tangan hingga ke lengan atas dan mencuci kaki
hingga ke betis sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Huroiroh ?
Untuk masalah ini (memanjangkan daerah wudlu hingga ke lengan atas dan
betis demikian juga ke leher ketika mencuci wajah) ada khilaf dikalangan
para ulama. Jumhur ulama (Imam Syafi'i dan Imam Abu Hanifah)
berpendapat bahwa hal ini disunnahkan. Imam Nawawi berkata : "Telah
bersepakat para sahabat kami atas mencuci apa yang di atas kedua siku
dan kedua mata kaki" Namun mereka berbeda pendapat tentang batasan
panjangnya tersebut. Mereka berdalil dengan hadits Abu Huroiroh t dalam
riwayat yang lain :
عَنْ
أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : سَمِعْت رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّ
أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُهَجَّلِيْنَ مِنْ آثَارِ
الْوُضُوْءِ فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيْلَ غُرَّتَهُ
وَتَحْجِيْلَهُ فَلْيَفْعَلْ
Dari Abu Huroiroh t berkata : Aku mendengar Rosulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya umatku dipanggil pada hari
kiamat dalam keadaan bercahaya wajah-wajah, tangan-tangan dan kaki- kaki
mereka karena bekas wudlu, maka barangsiapa yang mampu untuk
memanjangkan gurrohnya dan tahjilnya maka lakukanlah" (Hadits riwayat
Bukhori dan Muslim)
Sedangkan Imam Malik berpendapat tidak disunnahkannya hal ini
(memanjangkan wudlu melewati tempat yang diwajibkan). Dan ini merupakan
pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan juga dipilih
oleh ulama sekarang seperti Syaikh Adurrohman As-Sa'di, Syaikh Bin Baz,
Syaikh Utsaimin, dan Syaikh Al-Albani.
Dalil mereka (Taudihul Ahkam 1/182) :
- Seluruh sahabat yang mensifatkan wudlu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan kecuali hanya sampai kedua siku dan kedua mata kaki
- Dalam ayat (Al-Maidah :6) tempat anggota wudlu hanya dibatasi pada siku dan dua mata kaki
Adapun perkataan :"Barang siapa yang mampu untuk memanjangkan, dst…..",
ini bukanlah perkataan Rosululah r tetapi merupakan mudroj (tambahan
perkataan) dari Abu Huroiroh t. Dalam musnad Imam Ahmad, Nu'aim
Al-Mujmiri perowi hadits ini berkata : "Aku tidak tahu perkataan
("Barang siapa yang mampu untuk memanjangkan gurrohnya hendaklah dia
melakukannya") merupakan perkataan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam atau perkataan Abu Huroiroh". Berkata Ibnul Qoyyim :"Tambahan ini
adalah mudroj dari perkataan Abu Huroiroh t bukan dari perkataan Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal ini telah dijelaskan oleh banyak
Hafiz". Bahkan dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim(no
250) dari Abi Hazim, beliau berkata : "Aku dibelakang Abu Huroiroh t dan
dia sedang berwudlu untuk sholat, dan dia mencuci tangannya hingga ke
ketiaknya. Maka aku berkata kepadanya :"Wahai Abu Huroiroh, wudlu apa
ini?", maka beliau berkata :"Wahai Bani Farrukh, apakah engkau disini?,
Kalau aku tahu engkau di sini maka aku tidak akan berwudlu seperti ini.
Aku telah mendengar kekasihku (yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)
bersabda : Panjangnya perhiasan seorang mukmin tergantung panjangnya
wudlu". Hadits ini jelas menunjukan bahwa wudlu yang dilakukan oleh Abu
Huroiroh t hanyalah ijtihad beliau t saja.
- Kalau kita terima hadits ini, maka kita harus mencuci wajah hingga ke rambut. Dan ini tidak lagi disebut gurroh. Karena yang namanya gurroh hanyalah di wajah saja. (Lihat penjelasan Ibnul Qoyyim dalam Irwaul Golil 1/133). Demikian juga kita harus mencuci tangan kita hingga ke lengan atas. Orang yang membolehkan hal ini berdalil dengan hadits Abu Huroiroh bahwa Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنَ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوُضُوْءُ
(Panjangnya) perhiasan seorang mukmin tergantung (panjang) wudlunya. (Riwayat Muslim)
Namun ini tidaklah benar karena namanya perhiasan hanyalah dipakai di lengan bawah bukan di lengan atas.
7. Membasahi kedua tangan lalu membasuh kepala dan kedua telinga.
Caranya sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin Zaid. Dan cukup
diusap tidak boleh dicuci. Barang siapa yang mencucinya maka dia telah
menyelisihi perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah
mewajibkan kita untuk mengusap bukan mencuci karena mencuci kepala bisa
memberatkan kaum muslimin, terutama ketika musim dingin. Selain itu jika
kepala sering dalam keadaan basah maka bisa menimbulkan penyakit. Dan
perbedaan antara mengusap dan mencuci yaitu mencuci membutuhkan aliran
air sedangkan mengusap tidak.(Syarhul Mumti' 1/150)
Dan disunnahkan mengusap kepala hanya sekali, namun boleh terkadang juga
tiga kali, sebagaimana telah shohih dari Utsman t bahwasanya Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengusap kepalanya tiga kali.
(Shohih Sunan Abu Dawud no 95, lihat Tamamul Minnah hal 91).
Para ulama berselisih tentang wajibnya mengusap seluruh kepala. Abu
Hanifah dan As-Syafi'i berpendapat akan bolehnya mengusap sebagian
kepala, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah hanya mengusap
ubun-ubun beliau ketika berwudlu. Selain itu huruf ب yang terdapat dalam
ayat (بِرُؤُوْسِكُمْ) bisa bermakna "sebagian".
Sedangkan Imam Malik dan Imam Ahmad akan wajibnya mengusap seluruh
kepala karena demikianlah yang ada dalam hadits-hadits yang shohih dan
hasan. Syaikhul Islam berkata : "Tidak dinukil dari seorang sahabatpun
bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencukupkan membasuh
sebagian kepala" Berkata Ibnul Qoyyim ;"Tidak ada sama sekali satu
haditspun yang shohih bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah mencukupkan membasuh sebagian kepala" (Taudihul Ahkam 1/169). Dan
inilah pendapat yang rojih karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengusap ubun-ubunnya ketika dia memakai sorban, sebagaimana dalam
hadits:
عَنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ t أَنَّ النَّبِيَّ تَوَضَّأَ فَمَسَحَ بِنَاصِيَتِهِ وَ عَلَى الْعِمَامَةِ وَالْخُفَّيْنِ
Dari Mugiroh bin Syu'bah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
berwudlu' lalu beliau mengusap ubun-ubunnya dan atas sorbannya dan kedua
khufnya. (Riwayat Muslim)
Dari hadits ini bisa ada 2 kemungkinan :
- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah hanya mengusap sorbannya dan pernah hanya mengusap kepalanya dimulai dari ubun-bunnya. (Taudihul Ahkam 1/187)
- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap ubun-ubunnya lalu melanjutkan mengusap sorbannya. (Dan semua kemungkinan ini dibolehkan oleh Sidiq Hasan Khon dalam Ar-roudlotun Nadiah)
Sedangkan makna ب untuk makna tab'id (sebagian) tidak ada dalam bahasa
Arab sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin (Syarhul mumti' 1/151)
Mengusap kedua telinga
Dan dalam mengusap kepala disertai dengan mengusap kedua telinga. Sesuai dengan hadits.
عَنْ
عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو ، فِيْ صِفَةِ الْوُضُوْءِ قَالَ : ثُمَّ
مَسَحَ بِرَأْسِهِ، وَأَدْخَلَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَاحَتَيْنِ فِيْ
أُذُنَيْهِ وَمَسَحَ بِإِبْهَامَيْهِ ظَاهِرَ أُذُنَيْهِ
Dari Abdillah bin 'Amr tentang sifat wudlu, berkata : "Kemudian Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepalanya dan memasukkan kedua
jari telunjuknya kedalam kedua telinganya dan mengusap bagian luar kedua
telinganya dengan kedua ibu jarinya" (Hadits hasan diriwayatkan oleh
Abu Dawud dan Nasa'i dan dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah).(Taudihul
Ahkam 1/166)
Dan juga hadits Ibnu Abbas :
أَنَّ النَّبِيَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ وَ أُذُنَيْهِ ظَاهِرَُمَا وَ بَاطِنَهُمَا
"Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepalanya dan
kedua telinganya baik bagian luar maupun yang bagian dalam" (Hadits
shohih, dishohihkan oleh Tirmidzi, Irwaul Golil no 90)
Dan ketika mengusapnya tidak perlu air yang baru. Berkata Ibnul Qoyyim
:"Tidak ada riwayat yang tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bahwasanya beliau mengambil air yang baru untuk mengusap kedua
telinganya". Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil air yang baru bukan dari air
bekas mengusap kepalanya adalah dlo'if. Yang shohih yaitu bahwasanya
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepalanya dengan air yang
bukan sisa (untuk mencuci) kedua tangannya. (Taudlihul Ahkam 1/180).
Hukum mengusap kedua telinga adalah wajib karena (Taudlihul Ahkam 1/168) :
- Termasuk dari keumuman perintah dalam ayat (وَامْسَحُوْا بِرُؤُوْسِكُمْ), dan telinga termasuk kepala (baik menurut bahasa, 'urf, mapun syar'i), sebagaimana hadits : الأُذُنَانِ مِنَ الرَّأْسِ (kedua telinga itu termasuk kepala, lihat As-Shohihah no 36, dan pendapat akan sunnahnya (tidak wajib) timbul karena menganggap hadits ini lemah).
- Hikmah diusapnya telinga selain untuk sempurnanya kebersihan telinga baik yang luar maupun yang dalam, juga membersihkan dosa-dosa yang telah dilakukan oleh telinga.
8. Mencuci kaki kanan tiga kali hingga mata kaki, dan demikian pula yang kiri.
Mencuci kedua kaki hukumnya adalah wajib, sesuai perintah Allah ta'ala
وَأَرْجَلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ (…Dan kaki-kaki kalian hingga ke mata
kaki). Dan cara mencucinya yaitu mencuci dari ujung-ujung jari kaki
hingga (bersama) mata kaki sebagaimana disebutkan dalam ayat. Dan ini
telah disepakati oleh Ahlus-Sunnah wal jama'ah. Berbeda halnya dengan
Syi'ah. Mereka beranggapan bahwa mengusap kaki sudahlah cukup dan tidak
usah sampai ke mata kaki tapi cukup ke punggung kaki. Dalil mereka yaitu
:
- Adanya qiroat lain dalam ayat (وَأَرْجَلِكُمْ) yaitu dengan dikasrohkan huruf ل tidak di fathah sehingga atofnya kepada kepala bukan pada wajah. Ini menunjukkan bahwa hukum kaki sama dengan hukum kepala (sama-sama diusap).
- Ka'ab yang disebutkan dalam ayat datang dalam bentuk mutsanna (yang menunjukan dua), padahal jumlah ka'ab untuk dua kaki adalah empat. Sehingga makna ka'ab dalam ayat bukanlah mata kaki tetapi punggung kaki. (Syarhul mumti' 1/153)
Namun pendapat mereka ini adalah salah. Bantahannya :
- Qiro'ah yang tujuh adalah dengan memfathahkan huruf ل . Dan qiro'ah ini jelas menunjukan akan wajibnya. Adapun riwayat yang dikasrohkan ل, walaupun shohih namun tidak merubah hukum. Dan hal ini boleh dalam bahasa arab yaitu أَرْجُلِ dikasrohkan karena mujawaroh (bertetangga) dengan بِرُؤُوْسِ . Sebagaimana dalam firman Allah ta'ala dalam surat Hud ayat 26 (عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيْمٍ). أَلِيْمٍ merupakan sifat dari عَذَابَ tetapi dia majrur karena bertetangga dengan يَوْمٍ .(Syarhus Sunnah 1/430)
- Kalaupun qiro'ah yang dikasroh merubah hukum maka bisa dibawakan bagi hukum mengusap kaki ketika memakai khuf. (Syarhul mumti' 1/176)
- Kalau boleh membasuh kaki maka bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
عَنْ
عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ : تَخَلَّفَ عَنَّا رَسُوْلُ اللهِ فِيْ
سَفَرٍ سَفَرْنَاهُ، فَأَدْرَكَنَا وَقَدْ أَرْهَقَتْنَا الصَّلاَةُ،
صَلاَةُ الْعَصْرِ وَنَحْنُ نَتَوَضَّأُ، فَجَعَلْنَا نَمْسَحُ عَلَى
أَرْجُلِنَا، فَنَادَاناَ بِأَعْلَى صَوْتِهِ :" وَيْلُ لِلأَعْقَابِ مِنَ
النَّارِ"
Dari Abdullah bin Amr berkata : "Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam ketinggalan dari kami dalam suatu safar yang kami bersafar
bersama beliau, lalu (setelah menyusul kami-pent) beliau mendapati kami -
(dan ketika itu) telah datang waktu sholat yaitu sholat asar- kami
sedang berwudlu, maka kami mengusap kaki-kaki kami. Lalu Rosulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam berteriak kepada kami dengan suaranya yang
keras :"Celakalah tumit-tumit (yang tidak terkena air wudlu) dengan
api" (Hadits shohih riwayat Bukhori dan Muslim)
Kalau memang mengusap kaki boleh tentu tidak mengapa tumit tidak terkena air.
- Mencuci kaki harus sampai mata kaki, sebagaimana dijelaskan oleh hadits Abu Huroiroh
أَنَّ
أَبَا هُرَيْرَةَ تَوَضَّأَ فَغَسَلَ يَدَهُ حَتَّى أَشْرَعَ فِيْ
العَضُدِ، وَرِجْلَهُ حَتَّى أَشْرَعَ فِيْ السَّاقِ، ثُمَّ قَالَ :
هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُلَ اللهِ يَتَوَضَّأُ
Abu Huroiroh berwudlu maka dia mencuci tangannya hingga naik ke lengan
atas dan dia mencuci kakinya hingga naik ke betisnya, lalu dia berkata :
"Demikianlah aku melihat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
berwudlu" (Hadits shohih riwayat Muuslim, irwaul golil no 94)
Dan tidak mungkin mencuci betis kecuali juga mencuci mata kaki. Dan
kalau cuma diusap sampai punggung kaki maka tumit boleh tidak terkena
air. Dan ini bertentangan dengan hadits Abdullah bin Amr di atas.
Perlu diingat ketika mencuci kaki disunnahkan untuk menyela jari-jari
kaki dan juga jari-jari tangan (Taudihul Ahkam 1/175), sebagaimana
hadits :
عَنْ
لَقِيْط بْن صَبْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : أَسْبِغِ
الْوُضُوْءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ، وَبَالِغْ فِيْ
الإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا
Dari Laqith bin Sopoh berkata : Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :"Sempurnahkanlah wudlu dan sela-selalah jari-jari dan
bersungguh-sungguhlah ketika beristinsyaq kecuali engkau sedang
berpuasa" (Hadits shohih, dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah).
Adapun menyela jari-jari kaki dengan jari tangan yang kelingking, maka
ini hanyalah istihsan dari para ulama dan tidak bisa dikatakan sunnah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berkata Ibnul Qoyyim dalam zadul
ma'ad :"…Dalam (kitab) sunan dari Mustaurid bin Syadad berkata : "Aku
melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudlu dan dia menggosok
jari-jari kakinya dengan jari tangan kelingkingnya" Kalau riwayat ini
benar [1]¨) maka sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya
melakukannya sekali-kali. Oleh karena itu sifat seperti tidak
diriwayatkan oleh para sahabat yang memperhatikan wudlu Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam seperti Utsman, Abdullah bin Zaid dan selain
keduanya. Lagipula dalam riwayat tersebut ada Abdullah bin Lahiah."
(Syarhul Mumti' 1/143).
9. Membaca doa setelah wudlu
Yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam hadits :
مَا
مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُسْبِغُ الْوُضُوْءَ ثُمَّ يَقُوْلُ :
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاََّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسوْلُهُ, إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ
أبْوأبُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
"Tidak ada seorang pun dari kalian yang berwudlu lalu menyempurnakan wudlunya kemudian berkata :
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاََّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسوْلُهُ
kecuali akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan dan dia
masuk dari pintu mana saja yang dia sukai". (Hadits riwayat Muslim,
irwaul golil no 96)
Dan juga tambahan yang diriwayatkan oleh Tirmidzi :
أللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersih.
Sebagian ulama menganggap tambahan ini dhoif karena idtirob sanadnya,
namun yang benar tambahan ini adalah shohih menurut Syaikh Al-Albani
(Tamamul Minnah hal 96).
Disunnahkan pula untuk berkata setelah wudlu :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لاَ إِلهَ إلاَّ أَنْتَ ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
(Dari hadits Abu Sa'id Al-Khudri, lihat Irwaul golil 1/135 dan 2/94)
Artikel : hikayahhati.blogspot.com "jika ingin berkomentar via FACEBOOK, silahkan klik tombol "LIKE" di bawah Jazaakumullahu khaeran kathiran